Pada prakteknya membeli SR TELUR ASIN memiliki beragam motivasi :
TETAP KALANGAN TERTENTU
Sebagai bingkisan, kiranya ini hal yang wajar. Sejak “tempoe doeloe” telur asin memang sebagai menu tradisional yang memiliki kelas tersendiri. Pasarnya hanya kalangan tertentu.
Pada tahun 1996, misalnya, meski harga telur asin masih Rp 300/ butir, itu pun bagi orang kebanyakan berkecenderungan menikmatinya hanya ketika sedang “berbahagia”, di kereta api atau perjalanan jauh. Ketika ada duit lebih.
Sekarang pun tidak ada bedanya. Maka bila SR TELUR ASIN diper-untuk-an sebagai bingkisan, itu merupakan hal yang biasa, realistis dan memang “bernilai”.